Haus Buku di Tengah Kelimpahan yang Tak Dibaca
Ada ironi yang menggelitik di negeri ini. Di kota, buku berlimpah, rak-rak toko penuh, perpustakaan modern tersedia—namun pemuda dan mahasiswanya kerap ogah membuka halaman. Sementara di pelosok Sumbawa, anak-anak rela mengorbankan tidur siang mereka hanya demi ikut membaca bersama di Taman Baca Masyarakat.
Ada ironi yang menggelitik di negeri ini. Di kota, buku berlimpah, rak-rak toko penuh, perpustakaan modern tersedia—namun pemuda dan mahasiswanya kerap ogah membuka halaman. Sementara di pelosok Sumbawa, anak-anak rela mengorbankan tidur siang mereka hanya demi ikut membaca bersama di Taman Baca Masyarakat.
TBM Pelita Jang Oetama di Orong Telu menjadi saksi. Satu-satunya taman baca se-kecamatan itu dipadati anak-anak yang dengan antusias membaca keras bersama, lalu berdiskusi. Mereka haus akan ilmu, haus akan cerita, haus akan dunia yang selama ini hanya mereka dengar dari jauh.
Namun ada tantangan yang tak kalah penting. Buku-buku yang ada masih terlalu "kota". Bagaimana menjelaskan pie apple pada anak yang kesehariannya makan singang, sepat, dan goreng? Ini bukan sekadar soal akses buku, tetapi soal relevansi. Anak-anak desa perlu cerita yang dekat dengan hidup mereka—tentang sawah, gunung, laut, dan kuliner lokal yang mereka kenal.
Inilah pentingnya gerakan literasi yang tidak sekadar menumpuk buku di rak, tetapi menghidupkannya. Membaca bersama, mendiskusikan, dan menerjemahkan isi buku ke dalam realitas mereka. Tanpa itu, taman baca hanya gudang buku, tak beda dengan kapitalis yang mengoleksi tanpa membaca.
Peneleh telah memulai langkah benar. Kini giliran kita—penerbit, penulis, pendidik, dan masyarakat—untuk memastikan anak-anak desa mendapatkan bacaan yang membumi. Karena literasi sejati bukan tentang seberapa banyak buku yang kita miliki, tetapi seberapa dalam buku itu menyentuh kehidupan.