Tepal, Antara Sensasi Off-Road dan Ziarah Peradaban
Bait itu terasa hidup ketika menyaksikan ironi Tepal, Sumbawa. Di satu sisi, ratusan kendaraan off-road datang untuk mencari sensasi, memompa adrenalin di medan terjal. Di sisi lain, warga setempat menjalani perjalanan yang sama—bukan untuk hiburan, tetapi untuk bertahan hidup. Akses ke kebutuhan pokok menjadi perjuangan, bukan euforia.
"Kesedihan hanya tontonan, bagi mereka yang diperbudak jabatan..." — Iwan Fals
Bait itu terasa hidup ketika menyaksikan ironi Tepal, Sumbawa. Di satu sisi, ratusan kendaraan off-road datang untuk mencari sensasi, memompa adrenalin di medan terjal. Di sisi lain, warga setempat menjalani perjalanan yang sama—bukan untuk hiburan, tetapi untuk bertahan hidup. Akses ke kebutuhan pokok menjadi perjuangan, bukan euforia.
Sungguh disayangkan jika Tepal hanya dilihat sebagai arena petualangan. Padahal, di tanah inilah lahir Syaikh Zainuddin—ulama besar yang mengajar di Masjidil Haram, menulis Sirajul Huda yang menjadi rujukan di Malaysia dan Timur Tengah, dan menjadi guru dari para guru penyebar Islam, termasuk Syaikhona Kholil Bangkalan. Tepal adalah situs peradaban, bukan sekadar lintasan off-road.
Kedatangan Yayasan Peneleh Jang Oetama ke Tepal bukan untuk mencari sensasi. Mereka datang untuk berziarah, meneguhkan adab pada Guru, sebelum mendirikan Masjid Kampus di Orong Telu. Mereka menyaksikan pemandangan indah dan merasakan hangatnya sambutan warga—bukan sebagai turis, tetapi sebagai murid yang hendak meneladani perjuangan ulama.
Sudah saatnya kita mengubah cara pandang. Tepal layak dikunjungi bukan untuk adrenalin sesaat, tetapi untuk merenungkan jejak peradaban dan mendukung akses yang lebih baik bagi warganya. Karena kemuliaan sebuah tempat bukan terletak pada sulitnya medan, tetapi pada lahirnya manusia-manusia agung dari tanahnya.